batas atas kiri batas atas batas atas kanan
batas kiri
 
Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin  
  batas kanan    
 
» Islam Dan Tantangan Global
» Tiga Poin Kandungan Surat Al Maidah Ayat 3
» Tradisi Pesantren dan Terorisme
» Korupsi dan Problem Kesadaran Beragama
» Sesungguhnya, Rakyat Belumlah Merdeka
» Salat Tiang Agama
» Fiqh Lintas Agama
» Fiqh Pada Abad Modern
» Klaim Kiamat: Klaim Semu
» Ahlussunnah, Kiri dan Kanan
» Cobaan Ummat Karena Abaikan Sholawat
» Istiqamah: Lebih dari Sekadar Konsistensi
» Membaca Haji Sebagai Napak Tilas Religi
» Wajah Pendidikan Agama Kita
» Falsafah Iqra'
» Dimana Etika Anak Bangsaku ?
» Menanti Kiprah Riil Pesantren
» Politik Pesantren, Bikin Gairah atau Gerah?
  batas kanan
batas kanan  

Falsafah Iqra'
Memahami Konsep 'Membaca' Dalam Islam
Oleh Muhibuddin*

Islam tentunya tidak hanya dapat difahami sebagai sebuah kumpulan ritualitas-ritualitas yang monolitik sebagaimana terangkum dalam 'Rukun Islam' yang lima. Tetapi Islam sesungguhnya adalah sebuah sistem hidup yang sangat fundamental dan holistik. Artinya, Islam tidak hanya berbicara mengenai 'ubudiyyah dalam konteks hubungan interpersonal dengan Allah swt. (hablum minaallah) tetapi lebih dari itu Islam juga mengandung tuntunan hidup secara terperinci (Islam is a way of life) .

Manusia yang dititahkan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini dengan diberi potensi akal, pada dasarnya di(ter)tuntut untuk berlomba-lomba mengembangkan potensi diri dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu, manusia akan dimintakan pertanggunjawaban atas semua usaha yang pernah dilakukannya kelak dihadapan Sang Khaliq.

Secara naluri dalam fitrahnya, manusia adalah makhluk yang memiliki couricity (rasa ingin tahu) yang sangat tinggi. Maka dari itu, semua manusia baik muda maupun tua, anak kecil maupun orang dewasa berusaha untuk mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya. Maka tidak heran jika semua anak kecil tatkala melihat atau mendengar sesuatu yang asing baginya pasti mereka akan bertanya, baik kepada orang tua atau orang yang dekat dengannya. Hal demikian karena secara instingtif anak ingin mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya itu. Tetapi sebelum bertanya, tentunya mereka juga sudah meraba-raba apakah hal tersebut dan untuk memastikannya mereka lalu bertanya kepada orang lain.

Jadi, pada dasarnya memang semua manusia telah 'membaca' dalam arti luas namun belum terstruktur sebagai upaya untuk menghimpun pengetahuan dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial. Lalu, bagaimana konsep Islam dalam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk 'membaca' dalam kaitan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban umat manusia secara umumnya?

***

Islam dan Perintah 'Membaca'

Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi saw. adalah Iqra' atau 'membaca', meskipun Beliau dalam kondisi Ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis). Mengapa Iqra'? secara etimologis Iqra' diambil dari akar kata qara'a yang berarti 'menghimpun', sehingga tidak selalu harus diartikan 'membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu'. Selain bermakna 'menghimpun', kata qara'a juga memiliki sekumpulan makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Allah swt. berfirman :

.اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".

Kata Iqra' dalam surah al-'Alaq di atas oleh banyak ahli tafsir diartikan 'bacalah!', tetapi apa yang harus dibaca? dalam satu riwayat, Nabi saw. setelah mengalami kepayahan karena dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. beliau lantas bertanya: Ma aqra' ya jibril? namun pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh malaikat Jibril a.s., karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika (atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan sosial. Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain mampu memilih bahan-bahan bacaan yang tidak menghantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan 'nama Allah' itu.

Jika begitu kata Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra' mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.

Lalu, mengapa setelah kata اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ, dilanjutkan dengan خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. Dalam konteks ini Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, lalu apa maknanya? Manusia diarahkan untuk meneliti, memahami, dan mendalami proses penciptaan dirinya. Dimana manusia diciptakan oleh Allah dari segumpal darah, sesuatu yang menjijikkan nan hina, lalu berkembang hingga berbentuk sempurna dan diberikan kepadanya ruh. Namun ditegaskan ulang memang manusia memang harus membaca sebagai kunci utama untuk menghimpun pengetahuan. Itulah ajaran Allah yang Maha Agung untuk meninggikan derajat manusia sebagai khalifahnya di muka bumi.

Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. 'Membaca' dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831) . Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur'an.

Selanjutnya, Allah berfirman:

.اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ.عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-mengulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan dengan bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca hal itu juga. Mengulang-ulang membaca al-Qur'an tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang 'membaca ' alam raya, membuka tabir rahasianyadan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.

Kenapa Iqra' pada ayat yang ketiga diulang dan digandengankan dengan warabbukal akram? 'warabbukal akram' mengandung pengertian bahwa Dia (Allah) swt. dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi segala hambanya yang membaca.

Lalu, pada ayat keempat dilanjutkan dengan kata-kata 'Dia (Allah) swt. Dzat yang mengajari dengan (perantara) qalam'. Objek iqra' yang sedemikian luas itu, memang seola-ola dapat menyempit apabila hanya dilihat dari rangkainnya perintah membaca dengan qalam. Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontemporer memahami kata qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih dan juga harus diingat bahwa qalam bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan. Hal ini tegas disebutkan dalam ayat selanjutnya bahwa Allah memiliki kuasa untuk memberikan pengetahuan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui, baik lewat wahyu, ilham, karamah, intuisi dan lain sebaginya.

Dari tiga potongan ayat di atas kita juga dapat memahami bahwa pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh al-Qur'an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya (out put-nya). Wahyu pertama al-Qur'an menjelaskan dua cara untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu. Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum subjek dituntut berperan guna memahami objek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa objek terkadang memperkenalkan dirinya kepada subjek tanpa usaha sanga subjek. Komet Halley, memasuki cakrawala, hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam kasus ini walaupun para astronom menyiapkan diri dan alat-alatnya untuk mengamati dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri. Wahyu, ilham, intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya atau apa yang diduga sebagai 'kebetulan' yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, kesemuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas.

Dalam tiga ayat di atas, terlihat betapa al-Qur'an sejak dini telah memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan budi, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri. Dan al-Qur'an sebagai sebuah kitab terpadu, tentunya menghadapi dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya.

***

Membangun Peradaban Dengan 'Membaca'

Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna, sebagaimanajanji Allah swt.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا العِلمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi"

Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa 'membaca' adalah syarat utama guna membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, demikian pula sebaliknya. Maka uasaha untuk menggalakkan budaya membaca adalah hal yang sangat urgen untuk selalu dikampanyekan dan diusahakan. Maka, tidak mustahil jika pada suatu ketika 'manusia' akan didefinisikan sebagai 'makhluk membaca', suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya semacam 'makhluk sosial' atau 'makhluk berfikir'.

Sejarah umat manusia, secara umum dapat dibagi dalam dua priode uatama: 'sebelum penemuan tulis-baca' dan 'priode sesudahnya' sekitar lima ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis-baca, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaris sampai peradaban Amerika masa kini. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh generasi yang lalu dan dapat dibaca oleh generasi yang kemudian. Manusia tidak lagi memulai dari titik nol, berkat kemampuan tulis-baca itu.

Kejayaan peradaban romawi, peradaban Islam, peradaban Eropa saat ini tentunya semua dibangun dari tradisi membaca dan menulis. Beribu-ribu karya intelektual serta penemuan-penemuan yang original yang muncul pada zamannya. Intelektual bukanlah komunitas manusia yang hanya bergelut dengan tulis menulis, tetapi lewat berbagai macam eksperimentasi sehingga melahirkan suatu teori baru, begitu seterusnya hingga kini.

Tugas sebagai 'Abd lillah dan khalifatullah fi al-ardh yang diemban oleh makhluk manusia adalah merupakan konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sekaligus sebagai persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada (Adam) manusia, ia memiliki kelebihan dari malaikat, yangtadinya meragukan kemampuan manusia untuk membangun peradaban. Dan dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, maka manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Ilmu, baik yang kasby (acquired knowledge) maupun yang ladunny (abadi, perennial), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira'at - bacaan dalam arti yang luas.

Kekhalifahan menuntut hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya, dengan alam serta hubungan dengan Allah. Kekhalifahan menuntut juga kearifan. Karena, dalam kaitannya dengan alam, kekhalifahan mengharuskan adanya bimbingan terhadap makhluk agar mampu mencapai tujuan penciptaannya. Untuk maksud tersebut, dibutuhkan pengenalan terhadap alam raya. Pengenalan itu tidak akan dapat tercapai kalau tanpa usaha qira'at (membaca, menelaah, mengkaji, dan sebagainya).

Demikianlah, Iqra' merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan jika ia menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.

***

-wallahua'lam bissawab-

* Direktur Pelaksana forum Kajian Agama dan Sosial (ForKAS) Jakarta dan Sekretaris Institute for The Study of Religion dan Democracy (IRD) Jakarta yang keduanya konsen pada pengembangan pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran.

--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Nalar Muhib
26 July 2006, 11:02 am

 
copyright © mambaussholihin.com 2006
batas kanan
batas bawah kiri batas bawah batas bawah kanan
?>?>