Falsafah Iqra'
Memahami Konsep 'Membaca' Dalam Islam Oleh Muhibuddin*
Islam tentunya tidak hanya dapat difahami sebagai sebuah kumpulan ritualitas-ritualitas
yang monolitik sebagaimana terangkum dalam 'Rukun Islam' yang lima. Tetapi Islam
sesungguhnya adalah sebuah sistem hidup yang sangat fundamental dan holistik.
Artinya, Islam tidak hanya berbicara mengenai 'ubudiyyah dalam konteks
hubungan interpersonal dengan Allah swt. (hablum minaallah) tetapi
lebih dari itu Islam juga mengandung tuntunan hidup secara terperinci (Islam
is a way of life) .
Manusia yang dititahkan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini dengan
diberi potensi akal, pada dasarnya di(ter)tuntut untuk berlomba-lomba mengembangkan
potensi diri dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial.
Oleh sebab itu, manusia akan dimintakan pertanggunjawaban atas semua usaha yang
pernah dilakukannya kelak dihadapan Sang Khaliq.
Secara naluri dalam fitrahnya, manusia adalah makhluk yang memiliki couricity
(rasa ingin tahu) yang sangat tinggi. Maka dari itu, semua manusia baik muda
maupun tua, anak kecil maupun orang dewasa berusaha untuk mengetahui segala
sesuatu yang belum diketahuinya. Maka tidak heran jika semua anak kecil tatkala
melihat atau mendengar sesuatu yang asing baginya pasti mereka akan bertanya,
baik kepada orang tua atau orang yang dekat dengannya. Hal demikian karena secara
instingtif anak ingin mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya itu.
Tetapi sebelum bertanya, tentunya mereka juga sudah meraba-raba apakah hal tersebut
dan untuk memastikannya mereka lalu bertanya kepada orang lain.
Jadi, pada dasarnya memang semua manusia telah 'membaca' dalam arti luas namun
belum terstruktur sebagai upaya untuk menghimpun pengetahuan dan mengaktualisasikannya
secara nyata dalam kehidupan sosial. Lalu, bagaimana konsep Islam dalam mengajarkan
kepada seluruh umatnya untuk 'membaca' dalam kaitan pengembangan ilmu pengetahuan
dan peradaban umat manusia secara umumnya?
***
Islam dan Perintah 'Membaca'
Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi saw. adalah Iqra' atau
'membaca', meskipun Beliau dalam kondisi Ummi (yang tidak pandai membaca
dan menulis). Mengapa Iqra'? secara etimologis Iqra' diambil
dari akar kata qara'a yang berarti 'menghimpun', sehingga tidak selalu
harus diartikan 'membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu'.
Selain bermakna 'menghimpun', kata qara'a juga memiliki sekumpulan
makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri
sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Allah swt.
berfirman :
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".
Kata Iqra' dalam surah al-'Alaq di atas oleh banyak ahli tafsir diartikan
'bacalah!', tetapi apa yang harus dibaca? dalam satu riwayat, Nabi saw. setelah
mengalami kepayahan karena dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril
a.s. beliau lantas bertanya: Ma aqra' ya jibril? namun pertanyaan tersebut
tidak dijawab oleh malaikat Jibril a.s., karena Allah menghendaki agar beliau
dan umatnya membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika
(atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan sosial. Pengaitan
ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan
bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain mampu memilih bahan-bahan bacaan
yang tidak menghantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan 'nama Allah'
itu.
Jika begitu kata Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah,
ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah,
diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra'
mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Lalu, mengapa setelah kata
dilanjutkan dengan
Dalam konteks ini Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang telah menciptakan
manusia dari segumpal darah, lalu apa maknanya? Manusia diarahkan untuk
meneliti, memahami, dan mendalami proses penciptaan dirinya. Dimana manusia
diciptakan oleh Allah dari segumpal darah, sesuatu yang menjijikkan nan
hina, lalu berkembang hingga berbentuk sempurna dan diberikan kepadanya
ruh. Namun ditegaskan ulang memang manusia memang harus membaca sebagai
kunci utama untuk menghimpun pengetahuan. Itulah ajaran Allah yang Maha
Agung untuk meninggikan derajat manusia sebagai khalifahnya di muka bumi.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang
pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. 'Membaca' dalam aneka
maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi,
serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil
bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani
dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi.
Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai
dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831)
. Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur'an.
Selanjutnya, Allah berfirman:
"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya".
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan
bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-mengulangi bacaan,
atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan.
Tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan dengan
bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan
dan wawasan baru walaupun yang dibaca hal itu juga. Mengulang-ulang membaca
al-Qur'an tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan,
dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang 'membaca
' alam raya, membuka tabir rahasianyadan memperluas wawasan serta menambah
kesejahteraan lahir.
Kenapa Iqra' pada ayat yang ketiga diulang dan digandengankan
dengan warabbukal akram? 'warabbukal akram' mengandung
pengertian bahwa Dia (Allah) swt. dapat menganugerahkan puncak dari segala
yang terpuji bagi segala hambanya yang membaca.
Lalu, pada ayat keempat dilanjutkan dengan kata-kata 'Dia (Allah)
swt. Dzat yang mengajari dengan (perantara) qalam'. Objek iqra'
yang sedemikian luas itu, memang seola-ola dapat menyempit apabila
hanya dilihat dari rangkainnya perintah membaca dengan qalam.
Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontemporer memahami kata
qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin
tulis dan cetak yang canggih dan juga harus diingat bahwa qalam bukan
satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.
Hal ini tegas disebutkan dalam ayat selanjutnya bahwa Allah memiliki kuasa
untuk memberikan pengetahuan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui,
baik lewat wahyu, ilham, karamah, intuisi dan lain sebaginya.
Dari tiga potongan ayat di atas kita juga dapat memahami bahwa pengetahuan
dan peradaban yang dirancang oleh al-Qur'an adalah pengetahuan terpadu
yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya (out put-nya).
Wahyu pertama al-Qur'an menjelaskan dua cara untuk memperoleh dan mengembangkan
ilmu. Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum subjek
dituntut berperan guna memahami objek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan
bahwa objek terkadang memperkenalkan dirinya kepada subjek tanpa usaha
sanga subjek. Komet Halley, memasuki cakrawala, hanya sejenak setiap 76
tahun. Dalam kasus ini walaupun para astronom menyiapkan diri dan alat-alatnya
untuk mengamati dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih berperan
adalah kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri. Wahyu, ilham,
intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya
atau apa yang diduga sebagai 'kebetulan' yang dialami oleh ilmuwan yang
tekun, kesemuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang
dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas.
Dalam tiga ayat di atas, terlihat betapa al-Qur'an sejak dini telah
memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan budi, pikir dan zikir,
iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti setan. Iman
tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman
bagaikan pelita di tangan pencuri. Dan al-Qur'an sebagai sebuah kitab
terpadu, tentunya menghadapi dan memperlakukan peserta didiknya dengan
memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya.
***
Membangun Peradaban Dengan 'Membaca'
Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga
bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Karena, membaca
merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya
yang sempurna, sebagaimanajanji Allah swt.
"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman
dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi"
Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa 'membaca' adalah syarat
utama guna membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan
semakin tinggi peradaban, demikian pula sebaliknya. Maka uasaha untuk
menggalakkan budaya membaca adalah hal yang sangat urgen untuk selalu
dikampanyekan dan diusahakan. Maka, tidak mustahil jika pada suatu ketika
'manusia' akan didefinisikan sebagai 'makhluk membaca', suatu definisi
yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya semacam
'makhluk sosial' atau 'makhluk berfikir'.
Sejarah umat manusia, secara umum dapat dibagi dalam dua priode uatama:
'sebelum penemuan tulis-baca' dan 'priode sesudahnya' sekitar lima ribu
tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis-baca, peradaban manusia tidaklah
merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan
tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaris sampai peradaban
Amerika masa kini. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu
dari apa yang ditulis oleh generasi yang lalu dan dapat dibaca oleh generasi
yang kemudian. Manusia tidak lagi memulai dari titik nol, berkat kemampuan
tulis-baca itu.
Kejayaan peradaban romawi, peradaban Islam, peradaban Eropa saat ini
tentunya semua dibangun dari tradisi membaca dan menulis. Beribu-ribu
karya intelektual serta penemuan-penemuan yang original yang muncul pada
zamannya. Intelektual bukanlah komunitas manusia yang hanya bergelut dengan
tulis menulis, tetapi lewat berbagai macam eksperimentasi sehingga melahirkan
suatu teori baru, begitu seterusnya hingga kini.
Tugas sebagai 'Abd lillah dan khalifatullah fi al-ardh
yang diemban oleh makhluk manusia adalah merupakan konsekuensi dari potensi
keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sekaligus sebagai persyaratan
mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Dengan ilmu
yang diajarkan oleh Allah kepada (Adam) manusia, ia memiliki kelebihan
dari malaikat, yangtadinya meragukan kemampuan manusia untuk membangun
peradaban. Dan dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, maka
manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan
umumnya malaikat. Ilmu, baik yang kasby (acquired knowledge)
maupun yang ladunny (abadi, perennial), tidak dapat
dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira'at - bacaan dalam
arti yang luas.
Kekhalifahan menuntut hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya,
dengan alam serta hubungan dengan Allah. Kekhalifahan menuntut juga kearifan.
Karena, dalam kaitannya dengan alam, kekhalifahan mengharuskan adanya
bimbingan terhadap makhluk agar mampu mencapai tujuan penciptaannya. Untuk
maksud tersebut, dibutuhkan pengenalan terhadap alam raya. Pengenalan
itu tidak akan dapat tercapai kalau tanpa usaha qira'at (membaca,
menelaah, mengkaji, dan sebagainya).
Demikianlah, Iqra' merupakan syarat pertama dan utama bagi
keberhasilan manusia. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan
jika ia menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt. kepada
manusia.
***
-wallahua'lam bissawab-
* Direktur Pelaksana forum Kajian Agama dan Sosial (ForKAS) Jakarta
dan Sekretaris Institute for The Study of Religion dan Democracy (IRD)
Jakarta yang keduanya konsen pada pengembangan pemahaman keagamaan yang
inklusif dan toleran.
--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Nalar Muhib
26 July 2006, 11:02 am
|