Membaca Haji Sebagai Napak Tilas Religi
Oleh: M. Nawawi Zain
Menelaah ibadah haji dibandingkan dengan ibadah lainnya akan tampak berbeda.
Di mana dalam haji prakteknya lebih kompleks berkaitan dengan rukun dan kewajiban-kewajibannya
yang lumayan banyak, bahkan waktu dan tempat pun ditentukan, yaitu pada bulan
Dzulhijjah dan lokasinya di Makkah al-Mukarramah. Karenanya diperlukan kemampuan
lebih bagi yang ingin menunaikannya, baik fisik, psikis dan finansial.
Di dalam ibadah haji ada berbagai rukun, kewajiban, dan sunnat. Seperti, ihram,
wuquf di arafah, thawaf, sa‘i, mencukur rambut, bermalam di Mina, melempar
jumrah dan sebagainya.
Sejenak, melihat rukun dan kewajiban haji di atas akan terbaca bahwa haji adalah
ibadah yang merupakan syiar para nabi terdahulu sampai Nabi Muhammad Saw., meski
ada beberapa nabi yang tidak diperintah untuk melaksanakan haji seperti Nabi
Nuh, Hud, Idris, karena masih 'sibuk' mengurus kaumnya.
Kemudian, umat Muhammad Saw yang notabene sebagai muslim, pun akhirnya diwajibkan
berhaji. Kewajiban ini dibebankan kepada semua muslim yang telah mencapai umur
baligh dan mampu, baik fisik atau finansial, seperti keterangan di atas. Hanya
saja rukun dan kewajibannya tidak sama persis seperti syariat nabi-nabi terdahulu.
Pada prakteknya, tersirat haji bagi umat Nabi Muhammad adalah lebih mengajak
pada napak-tilas (meneladani) perjalanan (sirah) nabi-nabi terdahulu, utamanya
terhadap Nabi Ibarahim, yang mana agama Islam dikatakan sebagai penerus ajarannya.
Sebagaimana Wuquf di Arafah yang merupakan tempat pertama kalinya Nabi Adam
dan Siti Hawa bertemu setelah diturunkan dari surga ke muka bumi, dan Sa‘i
yang merupakan lari-lari kecil ibunda Ismail As. dalam kegundahan mencari air
untuk minuman putranya yang akhirnya menemukan air zam-zam, Ka‘bah sendiri
sebagai bangunan pertama kali yang bertengger di bumi dan dibangun kembali oleh
Nabi Ibrahim dan Muhammad Saw. dan lain sebagainya.
Bulan Dzulhijjah sebagai Bulan Kurban
Bahkan dalam bulan haji ini bukan hanya bagi yang menunaikan ibadah haji saja
yang harus menapaktilas jejak nabi terdahulu. Tetapi bagi seluruh umat Islam
sedunia, yakni anjuran untuk berkurban bagi umat Islam dengan cara menyembelih
hewan yang kemudian diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Perintah berkurban ini pertama kali datang kepada Nabi Ibrahim yang diperoleh
dari mimpi yang benar (wahyu dari Allah). Dalam mimpi yang berturut-turut hingga
tiga kali ini, Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih Nabi
Ismail, putranya, bukan putra beliau yang bernama Nabi Ishaq. Sebab Nabi Ismail
adalah putra pertama dan datangnya perintah menyembelih tersebut datang pada
waktu Nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sementara Nabi Ishak sendiri lahir pada
waktu Nabi Ibrahim sudah berumur 99 tahun. Pendapat bahwa yang disembelih adalah
Nabi Ishaq ini datangnya dari Ahlu Kitab yang tak lain lebih didasarkan pada
faktor klaim keluarga, yakni disebabkan Nabi Ishaq adalah moyang mereka. Pendapat
ini telah ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Satu catatan dari kisah ini yang perlu dicermati, dengan adanya perintah penyembelihan,
bahwa Allah SWT. dengan hak prerogratifnya sebagai Tuhan, sah-sah saja menuntut
hamba-Nya untuk berkorban dengan cara apa pun, termasuk menghilangkan nyawa
demi membuktikan ketulusan pengabdian seorang hamba tersebut kepada-Nya: Sang
Ibarahim dituntut rela menyembelih putra kesayangannya dan, Ismail dituntut
harus rela menyerahkan nyawanya.
Ternyata di dalam ibadah haji kita tidak hanya diajak untuk menapak tilas jejak-jejak
nabi terdahulu, melainkan juga untuk berpetualang ke masa depan yang lebih nyata,
yakni masa kematian bagi umat manusia. Ibadah haji, secara tidak langsung mangajak
orang yang manunaikannnya belajar menuju kematian, mulai dari berangkat yang
harus rela meninggalkan sanak keluarga, berkumpul dengan ragam manusia dengan
pakaian yang sama sekali tidak mengapresiasikan sebuah kemewahan duniawi. Ini
sebagai gambaran kecil ‘kongres’ Padang Makhsyar yang akan dilewati
semua manusia pada waktu yang tidak akan lama lagi. Kongres sebagai titik klimaks
dari pergulatan manusia menghadapi berbagai romantika dunia yang berakhir pada
dua alternatif tak terelakkan: Surga atau Neraka. Hadiah bagi perbuatan di dunia.
--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Seng Mbau Rekso
12 June 2006, 10:18 pm
|