batas atas kiri batas atas batas atas kanan
batas kiri
 
Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin  
  batas kanan    
 
» Islam Dan Tantangan Global
» Tiga Poin Kandungan Surat Al Maidah Ayat 3
» Tradisi Pesantren dan Terorisme
» Korupsi dan Problem Kesadaran Beragama
» Sesungguhnya, Rakyat Belumlah Merdeka
» Salat Tiang Agama
» Fiqh Lintas Agama
» Fiqh Pada Abad Modern
» Klaim Kiamat: Klaim Semu
» Ahlussunnah, Kiri dan Kanan
» Cobaan Ummat Karena Abaikan Sholawat
» Istiqamah: Lebih dari Sekadar Konsistensi
» Membaca Haji Sebagai Napak Tilas Religi
» Wajah Pendidikan Agama Kita
» Falsafah Iqra'
» Dimana Etika Anak Bangsaku ?
» Menanti Kiprah Riil Pesantren
» Politik Pesantren, Bikin Gairah atau Gerah?
  batas kanan
batas kanan  

Membaca Haji Sebagai Napak Tilas Religi
Oleh: M. Nawawi Zain

Menelaah ibadah haji dibandingkan dengan ibadah lainnya akan tampak berbeda. Di mana dalam haji prakteknya lebih kompleks berkaitan dengan rukun dan kewajiban-kewajibannya yang lumayan banyak, bahkan waktu dan tempat pun ditentukan, yaitu pada bulan Dzulhijjah dan lokasinya di Makkah al-Mukarramah. Karenanya diperlukan kemampuan lebih bagi yang ingin menunaikannya, baik fisik, psikis dan finansial.

Di dalam ibadah haji ada berbagai rukun, kewajiban, dan sunnat. Seperti, ihram, wuquf di arafah, thawaf, sa‘i, mencukur rambut, bermalam di Mina, melempar jumrah dan sebagainya.

Sejenak, melihat rukun dan kewajiban haji di atas akan terbaca bahwa haji adalah ibadah yang merupakan syiar para nabi terdahulu sampai Nabi Muhammad Saw., meski ada beberapa nabi yang tidak diperintah untuk melaksanakan haji seperti Nabi Nuh, Hud, Idris, karena masih 'sibuk' mengurus kaumnya.

Kemudian, umat Muhammad Saw yang notabene sebagai muslim, pun akhirnya diwajibkan berhaji. Kewajiban ini dibebankan kepada semua muslim yang telah mencapai umur baligh dan mampu, baik fisik atau finansial, seperti keterangan di atas. Hanya saja rukun dan kewajibannya tidak sama persis seperti syariat nabi-nabi terdahulu. Pada prakteknya, tersirat haji bagi umat Nabi Muhammad adalah lebih mengajak pada napak-tilas (meneladani) perjalanan (sirah) nabi-nabi terdahulu, utamanya terhadap Nabi Ibarahim, yang mana agama Islam dikatakan sebagai penerus ajarannya. Sebagaimana Wuquf di Arafah yang merupakan tempat pertama kalinya Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu setelah diturunkan dari surga ke muka bumi, dan Sa‘i yang merupakan lari-lari kecil ibunda Ismail As. dalam kegundahan mencari air untuk minuman putranya yang akhirnya menemukan air zam-zam, Ka‘bah sendiri sebagai bangunan pertama kali yang bertengger di bumi dan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Muhammad Saw. dan lain sebagainya.

Bulan Dzulhijjah sebagai Bulan Kurban

Bahkan dalam bulan haji ini bukan hanya bagi yang menunaikan ibadah haji saja yang harus menapaktilas jejak nabi terdahulu. Tetapi bagi seluruh umat Islam sedunia, yakni anjuran untuk berkurban bagi umat Islam dengan cara menyembelih hewan yang kemudian diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Perintah berkurban ini pertama kali datang kepada Nabi Ibrahim yang diperoleh dari mimpi yang benar (wahyu dari Allah). Dalam mimpi yang berturut-turut hingga tiga kali ini, Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail, putranya, bukan putra beliau yang bernama Nabi Ishaq. Sebab Nabi Ismail adalah putra pertama dan datangnya perintah menyembelih tersebut datang pada waktu Nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sementara Nabi Ishak sendiri lahir pada waktu Nabi Ibrahim sudah berumur 99 tahun. Pendapat bahwa yang disembelih adalah Nabi Ishaq ini datangnya dari Ahlu Kitab yang tak lain lebih didasarkan pada faktor klaim keluarga, yakni disebabkan Nabi Ishaq adalah moyang mereka. Pendapat ini telah ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Satu catatan dari kisah ini yang perlu dicermati, dengan adanya perintah penyembelihan, bahwa Allah SWT. dengan hak prerogratifnya sebagai Tuhan, sah-sah saja menuntut hamba-Nya untuk berkorban dengan cara apa pun, termasuk menghilangkan nyawa demi membuktikan ketulusan pengabdian seorang hamba tersebut kepada-Nya: Sang Ibarahim dituntut rela menyembelih putra kesayangannya dan, Ismail dituntut harus rela menyerahkan nyawanya.

Ternyata di dalam ibadah haji kita tidak hanya diajak untuk menapak tilas jejak-jejak nabi terdahulu, melainkan juga untuk berpetualang ke masa depan yang lebih nyata, yakni masa kematian bagi umat manusia. Ibadah haji, secara tidak langsung mangajak orang yang manunaikannnya belajar menuju kematian, mulai dari berangkat yang harus rela meninggalkan sanak keluarga, berkumpul dengan ragam manusia dengan pakaian yang sama sekali tidak mengapresiasikan sebuah kemewahan duniawi. Ini sebagai gambaran kecil ‘kongres’ Padang Makhsyar yang akan dilewati semua manusia pada waktu yang tidak akan lama lagi. Kongres sebagai titik klimaks dari pergulatan manusia menghadapi berbagai romantika dunia yang berakhir pada dua alternatif tak terelakkan: Surga atau Neraka. Hadiah bagi perbuatan di dunia.

--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Seng Mbau Rekso
12 June 2006, 10:18 pm

 
copyright © mambaussholihin.com 2006
batas kanan
batas bawah kiri batas bawah batas bawah kanan
?>?>