Cobaan Ummat Karena Abaikan Sholawat
Oleh: M. Luqman Hakim
22 Mar
2006 Oleh sufinews -Tragedi demi tragedi ditunai ummat Islam,
mulai dari bencana dimana-mana hingga, ketika negeri-negeri Islam diserang
oleh AS dan sekutunya, lalu berujung pada penghinaan terhadap Nabi. Karikatur,
relief, gambar Nabi, telah meruyak kemarahan ummat seluruh dunia.
Negeri-negeri Islam yang membujur di belahan selatan dunia, yang dikategorikan
negeri miskin, di tengah arus globalisasi, semakin termiskinkan. Kekalahan
structural dalam berbagai piranti, infrastruktur, dan teknologi telah
membuat ummat Islam hanya menjadi sasaran konsumen negara-negara industri.
Belum lagi Mafia yang menguasai separo aktivitas internasional, yang menghalalkan
segala cara.
Kemudian Ummat terbelah menjadi kekuatan-kekuatan, kelompok-kelompok,
kebudayaan-kebudayaan, tidak jarang satu sama lain saling tarik menarik
dan bertentangan. Ada yang merespon kekuatan global dengan ekstrimitas
dan radikalisme, ada yang merespon dengan integralisme dan adaptasi dengan
globalisasi, ada yang merespon dengan sikap moderat tanpa mengorbankan
prinsip-prinsip dasar Islam, ada yang merespon dengan ketakberdayaan mengikuti
arus dengan sikap acuh tak acuh atas perkembangan planet bumi. Tapi peta
tersebut sangat menarik bagi dunia luar untuk memposisikan ummat Islam
di seluruh dunia sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang positif bagi
masa depan umat manusia.
Tetapi mari kita jenguk kondisi ummat kita sebenarnya. Tahun-tahun seperempat
abad terakhir, ummat Islam mengalami sock yang luar biasa, antara modernisasi,
tradisi, dan nilai-nilai agama. Diantara korban-korbannya adalah spiritualitas
ummat yang mencapai titik jenuh luar biasa, sampai akhirnya terekspresikan
dalam berbagai aktivitas yang cukup menyimpang dan mengerikan: Gerakan
spiritual yang mengatasnamakan gerakan ruhani Islam, seperti munculnya
lembaga-lembaga atau perorangan yang menjanjikan "Puncak Spiritual"
melalui aktivitasnya. Ternyata, tidak lebih dari aktivitas metafisika,
mistik, dan keparanormalan yang dibungkus dengan nuansa dzikir, ilmu-ilmu
hikmah tertentu dan lebih sadis lagi menggunakan singkretisme kebatinan
semua agama dalam satu format spiritual.
Dampaknya, ummat kehilangan nuansa genial yang murni dan hakiki, yang
selama ini dikokohkan oleh para Sufi dari zaman ke zaman mulai sejak era
Nabi Muhammad SAW. hingga dewasa ini. Dua pendulum yang kontra dan meruyak
aktivitas luhur dunia ruhani kaum Sufi bermunculan: Mereka ramai-ramai
mengobarkan semangat anti sufisme, karena dianggap bid'ah di satu sisi,
dan di sisi lain muncul kelompok penyimpang tasawuf yang mengatasnamakan
dunia Sufi.
Dua kelompok anatagonis inilah yang pada saat bersamaan, merasa paling
Islami dan paling benar, dan di saat yang lain meruntuhkan semangat kecintaan
kepada Allah dan Rasululullah SAW, dalam arti yang sesungguhnya, bukan
dengan cara emosi, reaksi dan arogansi.
Lalu semangat yang hakiki mengenai Mahabbatullah dan Mahbbatur-Rasul
terbuang dalam arus pembelaan yang bernuansa pinggiran, tidak masuk dalam
jantung hati yang sesungguhnya.
Sahara Kegersangan
Mari kita jenguk jendela kita semua, agar melihat ruang batin di kedalaman
jiwa kita. Benarkah kita telah membuktikan rasa cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya? Benarkan kita telah mendenyutkan jantung kita setiap saat,
setiap waktu, setiap ruang dan gerak, bersama dzikrullah dalam hati kita?
Seberapa persen jumlah ummat Islam seluruh dunia yang melakukan aktivitas
mulia dalam jiwanya? Apakah aktivitas mulia itu hanya dilihat dari yang
tampak dipermukaan dalam "teater ummat Islam"? Dalam "Gaya
hidup beragama"? Dalam "sok religi" atau "Style Islami"
di media massa dan kepentingan-kepentingan riya’ politik? Kenapa
tidak ada upaya untuk menjenguk kegersangan demi kegersangan yang menimpa
jiwa ummat ini?
Rupanya ummat seperti kehilangan induk ketika berada di Padang Mahsyar.
Gerakan demi gerakan, tak lebih dari sebuah kebingungan, keresahan dan
ketakutan. Di hamparan Mahsyar ummat mencari Syafaat, dari satu Nabi ke
Nabi lain, lalu berujung pada Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta hari ini,
pencarian cinta kepada Nabi di tengah kegersangan Mahsyar Dunia, dalam
kegundahan luar biasa. Lalu muncul berbagai image, dalam bebagai bentuk,
antara lain:
- Dengan menyatakan sebagai pembela Nabi SAW, tetapi tidak mencintai
Nabi SAW, dalam arti yang hakiki.
- Menyatakan sebagai pembela ahlul Bait sebagai ideology dan organisasi
saja.
- Memanggil-manggil Nabi dengan jeritan-jeritan sebagai aktivitas spiritual,
dan menganggapnya sebagai puncak spiritual.
- Merasa mendapatkan wahyu dari malaikat, lalu mengaku sebagai Nabi Baru,
yang selaras dengan Nabi Muhammad saw.
- Memanfaatkan simbol-simbol Kenabian sebagai gerakan massal, yang akhirnya
berujung pada ekonomi dan politik.
- Merasa paling dekat dengan Nabi, lalu dijadikan symbol spiritual, hanya
karena nasab dan keturunan.
- Merasa paling Islami dengan cara meniru gaya hidup lahiriyah Nabi,
Syariat Nabi, sementara Qalbu Nabi, Hakikat Islam, Ruhul Islam, tidak
dijadikan teladan, akhirnya hanya menuai kefasikan dan kegersangan hati.
- Dan kalau terurai sebenarnya ada 72 kelompok Islam yang merasa telah
benar meneladani Nabi, ternyata jauh dari keselamatan dan kebenaran.
Elemen kelompok itu hanyalah ilustrasi, yang bisa kita jadikan pelajaran
paling berharga. Faktanya, kelompok-kelompok itu tidak mencintai Nabi
dalam arti sesungguhnya, sehingga Syafaat Nabi untuk ummat Islam di dunia,
tidak bisa mereka terima secara total sebagaimana di suasana di padang
mahsyar kelak.
Coba dikalkulasi dalam statistik. Berapa persen dari jumlah ummat seluruh
dunia yang masih terus membaca sholawat Nabi setiap harinya? Berapa kali
setiap hari mereka membaca sholawat Nabi? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca
setiap kita sholat, karena dalam sholat ada bacaan sholawat? Apakah sholawat
Nabi hanya dibaca ketika ada maulid Nabi? Apakah sholawat hanya jadi nyanian-nyanyian
dan ekspressi seni dan hiburan, sebagaimana dalam gerakan musikalisasi
sholawat?
Benarkah bibir anda menggetarkan sholawat sepanjang saat? Benarkah "rasa"
sholawat telah menghujam dalam kecintaan luhur di jantung hati anda? Benarkah
anda merasakan kedekatan Nabi dengan diri anda, seakan-akan Nabi di hadapan
anda? Apakah anda mencintai sekadar sebagai statemen, pengakuan, lips
service, atau memang sampai pada kecintaan dalam keyakinan, haqqul yaqin
di hati?
Mari kita mengingat apa yang dikatakan Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam
kitab Al-Hikam, "Apa yang muncul dalam fenomena lahir sesungguhnya
akibat dari fenomena batin."
Jika batin kita tidak mencintai Nabi, atau sekadar "beban kewajiban"
saja bersholawat Nabi, maka yang muncul di fenomena lahiriyah hanyalah
kecintaan plastik yang palsu atas Nabi SAW. Jika hati kita tak pernah
beruntun mendetakkan sholawat Nabi, maka sholawat yang kita ungkapkan
pada Nabi hanyalah ekspressi kering dari bibir kita yang tak pernah basah
dengan dzikir dan sholawat.
Jangan sampai kita merasa dekat dengan Nabi, tapi hati kita jauh dari
Nabi.
Jangan sampai kita merasa membela Nabi, tapi jiwa kita tidak pernah
sholawat Nabi. Jangan sampai kita berharap sholawat Nabi, tapi sesungguhnya
kita tidak pernah menaruh rasa hormat dalam jantung hakiki.
Jangan sampai sampai kita merasa meneladani Nabi, tapi kesombongan, riya',
pengakuan-pengakuan menjadi gaya hidupnya yang dibungkus ke-Islamannya
untuk menyembunyikan kemunafikannya.
Jangan sampai anda merasa memakai baju-baju, ornament, life style, seperti
Nabi, namun sesungguhnya baju hakiki, ornament jiwa, life style ruhani
yang sesungguhnya compang camping di jiwa anda.
Jika hal itu tetap ada pada diri anda, maka cobaaan demi cobaan di Padang
Mahsyar dunia ini, senantiasa merobek sejarah kita, mengoyak kemuliaan
Nabi, merobohkan istana yang sesungguhnya dalam jiwa kita. Inna Lillahi
wa-Inna Ilaihi Roji'un.
Mari kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan RasulNya, kapan, dimana,
bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah
dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama "Tidaklah Kami mengutusmu,
kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta…" . Amin.
---(ooo)---
--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Nalar Muhib
26 July 2006, 1:18 pm
|