Masih Berharap... HUT Al-Fikroh ke-10
10 tahun Al-Fikrah menanjak. Genap bukan berarti lengkap. Justru dalam kegenapan tadi berbagai minus dapat terkoreksi. Sepanjang rentang waktu ini tentu para redaksi sudah diasuh dan didewasakan oleh berbagi proses, konflik, dan keterbatasan. Berbagai "pengasuh" yang terkonotasi negatif tadi memang benar-benar memberi kami (redaksi. red) pelajaran betapa berat, susah, menyedihkan, membahagiakan, dan membanggakan merawat sebuah media massa. Dan sekelumit apresiasi perasaan kami tadi ialah SARASEHAN BERSAMA PARA SENIMAN, Jum'at, 29 Agustus 2008 yang kami dedikasikan pada santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin yang kami percaya sebagai badal kami untuk suatu hari dalam berkhidmah intelektual (meminjam istilah mantan-mantan Pimred AL-FIKRAH).
Acara yang mengusung narasumber seniman kenamaan H.U. MARDILUHUNG dan dosen sekaligus penasehat lembar sastra AL-FIKRAH ISLACHUDDIN YAHYA, M. Pd. ini cukup menyita perhatian peserta. Hal ini terbukti dengan konstannya jumlah peserta selama acara. Peserta merasakan suntikan motivasi yang luar biasa seusai melalui sarasehan. Kedua tokoh ini memberikan jawaban-jawaban yang tidak biasa dan sedikit eksentrik atas segala kemelut tentang bagaimana seni dan sastra yang semestinya. Dialog lepas selama 60 menit yang memberikan kesadaran pada peserta maupun panitia (redaksi) bahwa sukses berkarya ialah dengan tak putus mencoba.
"Imajinasi termudah ialah jatuh cinta yang ringan." begitu komentar H. U. MARDILUHUNG saat ditanya bagaimana mencari imajinasi maupun inspirasi dalam menulis. Dijelaskan oleh beliau bahwa pusat energi mahluk Tuhan di muka bumi ini adalah cinta. Karena olehnya manusia bisa tergerak untuk melakuakan hal tergila sekalipun. Beliau juga berpesan bahwa seorang seniman bukan hanya bermodalkan kenyentrikan dan taste of art saja, namun juga intelektual yang memadai. Hal ini bisa dipenuhi dengan cara kuno yang selalu ngetrend, membaca. Sebuah pengalaman beliau saat menulis sebuah puisi yang dalam baitnya terdapat kalimat "...maka iapun menghunus samurai...", secara kasat mata tak ada yang rancau pada kalimat ini, namun salah seorang rekan sesama seniman yang berasal dari Lampung berkomentar, "Kalau samurai itu orangnya, kalau Katana pedangnya!" dengan sedikit kebingungan, beliau berharap solusi dari rekannya. "Lantas saya musti menulis bagaimana?" Rekannya menjawab, "Tinggal tambah kata pedang saja di depan samurai!" Secuil kisah seniman sekaliber beliau yang menggedor-gedor keengganan kita untuk menggali pengetahuan.
Kalau dihitung mundur, usia majalah yang satu dekade ini berbarengan dengan ulang tahun reformasi di Indonesia. Namun seperti yang sudah-sudah, reformasi yang menegakkannya amit-amit susah belum mampu menyembuhkan bangsa yang sakit kronis ini. Semoga tidak begitu halnya pada AL-FIKRAH. Melalui tasyakkur sederhana ini, tiap hati memanjatkan harapan secara kolektif pada Sang Dzat Maha Kreatif yang menjadi inspirator dan motivator utama kami, Allah SWT. Tentu seperti isi umum semua do'a yang berharap perbaikan pada langkah-langkah selanjutnya.


|