batas atas kiri batas atas batas atas kanan
batas kiri
 
Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin  
  batas kanan    
 

Tausyiyah

» Jangan memutus Hubungan Ruhaniyah dengan Gurumu
» Bahasa Arab dan Inggris adalah Penyempurna Pesantren ini
» al-Qur’an sebagai tolak ukur
» Salat Jamaah sebagai Ganti Tirakat Mondok
» Harus Ada Perbedaan Antara Sebelum dan Sesudah Mondok
» Cintailah Dzurriyaturrasul s.a.w
» Hubb al-Dunya Hijab Terbesar pada Allah s.w.t
» Jangan Biarkan Jiwa Santrimu Hilang
» Ridha Orang Tua, Ridha Guru dan Ridha Allah s.w.t.
» Tafaqquh Fi al-Din Sebagai Ruh Pesantren
» Waspadai Ajaran Islam Liberal
» Laksanakanlah Amanah, Jangan Memukul Santri
» Kesombongan dan Keikhlasan
» Belajarlah Akhlak al-Karimah pada Kiai Sepuh
» Jangan Pernah Merasa Pensiun Menjadi Guru
» Berbahagialah Orang yang Bertanggung Jawab
» Perkuatlah Mentalmu Dengan Wirid
» Jadilah Santri yang Intelektual
» Akal Tidak Membawa Kebahagiaan
» Doa Seorang Hamba
» Optimalkan Mahasiswa INKAFA
  batas kanan
batas kanan  
KH. Masbuhin Faqih
Pengasuh Pondok Pesantren
Mamba'us Sholihin

Kesombongan dan Keikhlasan

Alhamdulillah.., tahun ajaran baru telah tiba, hari ini kita telah sampai pada episode baru, lembaran pendidikan baru, lembaran pendidikan yang lama telah kita tutup, kita songsong ke depan; masa depan pendidikan yang lebih cerah dan maju, lebih baik dari pada tahun lampau. Bila yang akan datang masih sama dengan tahun-tahun yang sebelumnya, maka kita adalah termasuk orang yang merugi, dan bila kita adalah orang yang melangkah mundur ke belakang satu langkah, maka kita termasuk orang yang rusak.

Mengantisipasi kerugian dan kerusakan ini, mari kita evaluasi dan melakukan perbaikan diri. Kelemahan-kelemahan yang muncul di tahun lalu kita tutupi dengan kesuksesan, kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat sekarang kita benahi dengan sebaik mungkin. Memang, kita adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, namun alangkah baiknya bila diri kita mempunyai niatan untuk memperbaiki dan mengevaluasi, dan hari ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi, baik prestasi dunia maupun akhirat.

Saya ucapkan selamat datang kepada seluruh santri baru. Alhamdulillah, Allah s.w.t telah menunjukkan kita jalan yang benar, kita sungguh beruntung, karena kita adalah termasuk golongan orang-orang yang masih mendapat limpahan kasih sayang Allah s.w.t. Dia masih peduli kepada kita, kita adalah hamba-hamba-Nya yang diingini oleh-Nya. Allah s.w.t masih menunjukkan kita jalan yang diridhai-Nya. Dia telah memberikan kita jalan yang lapang dan baik, jalan kehidupan yang cerah, jalan yang lurus, masa depan yang barakah dan penuh limpahan kasih sayang.

Pondok pesantren, sebagaimana yang telah disampaikan oleh baginda rasul s.a.w, barang siapa yang diberi kebaikan oleh Allah s.w.t, maka ia akan ditunjukkan oleh Allah s.w.t menuju jalan yang diridâi-Nya yakni Din al-Islam, menuju pemahaman agama yang sempurna. 

Mudah-mudahan petunjuk ini bukan hanya petunjuk yang sementara, semoga kita bukan pula orang yang kurang bisa memanfaatkan petunjuk ini dengan baik. Petunjuk ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kita. Semoga dengan petunjuk ini, mudah-mudahan kita menjadi orang yang baik, bermanfaat bagi umat, menjadi Mundzirul Qaum kelak dan menjadi orang yang Khusnul Khatimah. Amin.....

Santri-santri yang saya cintai;

Dalam kehidupan ini, tak satupun manusia hidup tanpa cobaan dan godaan. Kualitas godaan dan cobaan seseorang oleh Allah s.w.t disesuaikan dengan kualitas dan keimanan seseorang. Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas godaan orang tersebut. Seorang pejabat misalnya, ia telah dicoba oleh Allah s.w.t dengan jabatan yang ia sandang. Begitu pula jabatan kiai adalah cobaan bagi seorang kiai, mampukah ia menjalankan fungsi kekiaiannya secara maksimal? bila gagal, maka ia tidak lulus ujian kekiaian yang diberikan oleh Allah s.w.t dan kelak akan ada balasan yang diberikan Allah s.w.t kepada sang kiai tersebut.

Seorang gubernur, bupati dan bahkan guru pun merupakan amanah dari Allah s.w.t. Mereka tidak boleh bangga dan gembira dengan status yang dibawanya, semua itu adalah cobaan dari-Nya, amanah yang harus ditunaikan dengan baik. Jabatan-jabatan itu tak jarang membawa bencana pada diri mereka, bukan malah membawa kebaikan dan kemanfaatan, malahan mereka mendapat kemadlaratan.

Ada dua hal yang sering membuat mereka terlena dan tertipu oleh jabatan itu: kesombongan dan ketidakikhlasan. Itu adalah dua hal yang rentan menghantui bagi para penyandang jabatan amana. Seorang guru misalnya, ia adalah pendidik yang terhormat, ia mengabdi pada masyarakat. Seharusnya mereka mendapat penghormatan dan imbalan dari Allah s.w.t setimpal dengan perbuatannya. Namun, guru justru tidak mendapatkan apa-apa, bila seluruh perbuatan dan kinerjanya yang begitu keras ditunggangi oleh dua hal diatas, kesombongan dan ketidakikhlasan. Naudzu Billah..!

Ini sering terjadi pada kita, kita sudah sekeras-kerasnya berjuang, namun, hasil perjuangan kita hanya mewujud dalam hasil material belaka, tidak mewujud dalam hasil spiritual. Karena kita mempunyai kecenderungan lain yakni: kesombongan dan ketidakikhlasan. Sayang, bila hanya karena sombong dan tidak ikhlas, kita menghanguskan amalan-amalan kita yang begitu banyak. Maka, mulailah dari sekarang untuk belajar menghilangkan kesombongan dan ketidak ikhlasan dari dalam nurani kita, belajarlah secara perlahan-lahan. Mudah-mudahan Allah s.w.t menuntun kita menjadi orang yang ikhlas dan selalu tawadlu' kepada-Nya. Amin...Ya Mujibas Sailin.

 
copyright © mambaussholihin.com 2006
batas kanan
batas bawah kiri batas bawah batas bawah kanan
?>?>