batas atas kiri batas atas batas atas kanan
batas kiri
 
Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin  
  batas kanan    
 

Tausyiyah

» Jangan memutus Hubungan Ruhaniyah dengan Gurumu
» Bahasa Arab dan Inggris adalah Penyempurna Pesantren ini
» al-Qur’an sebagai tolak ukur
» Salat Jamaah sebagai Ganti Tirakat Mondok
» Harus Ada Perbedaan Antara Sebelum dan Sesudah Mondok
» Cintailah Dzurriyaturrasul s.a.w
» Hubb al-Dunya Hijab Terbesar pada Allah s.w.t
» Jangan Biarkan Jiwa Santrimu Hilang
» Ridha Orang Tua, Ridha Guru dan Ridha Allah s.w.t.
» Tafaqquh Fi al-Din Sebagai Ruh Pesantren
» Waspadai Ajaran Islam Liberal
» Laksanakanlah Amanah, Jangan Memukul Santri
» Kesombongan dan Keikhlasan
» Belajarlah Akhlak al-Karimah pada Kiai Sepuh
» Jangan Pernah Merasa Pensiun Menjadi Guru
» Berbahagialah Orang yang Bertanggung Jawab
» Perkuatlah Mentalmu Dengan Wirid
» Jadilah Santri yang Intelektual
» Akal Tidak Membawa Kebahagiaan
» Doa Seorang Hamba
» Optimalkan Mahasiswa INKAFA
  batas kanan
batas kanan  
KH. Masbuhin Faqih
Pengasuh Pondok Pesantren
Mamba'us Sholihin

Jangan Biarkan Jiwa Santrimu Hilang

Inilah kekhawatiran yang sangat mencemaskan para ulama' salafus shalih. Hilangnya jiwa santri dari para santri yang sedang mencari ilmu di pesantren atau di lembaga Islam lainnya. Sebab, kalau jiwa santri ini hilang maka hilanglah sudah penjaga nilai-nilai moralitas yang ada di pesantren, dan pesantren pun akan mengalami kerapuhan. Kalau sudah demikian, yang terjadi adalah pesantren akan kehilangan taringnya.

Perlu diingat, bahwa pesantren adalah benteng bangsa Indonesia. Pesantren adalah penjaga moralitas bangsa yang menjadi ruh dan modal dasar bagi berdirinya bangsa yang kita cintai ini. Ini artinya tanpa pesantren, moralitas bangsa akan tercerabut dari akar-akarnya. Sehingga masa-masa kehancuran bangsa ini hanya akan menunggu waktu saja.

Pesantren kita harus tetap berpegang teguh pada konsep yang dibangun oleh ulama' salafus shalih yang berdasarkan Islam yang bersendikan al muhafadlatu ala al qadim al-shalih wal akhdlu bi al jadid al ashlah. Kalau pesantren kita terus ikut-ikutan dengan konsep yang dibangun dari luar pesantren serta latah terhadap segala sesuatu yang bersifat modern, maka bisa jadi pesantren akan tercerabut dari akar-akar tradisionalnya, kemudian menyimpang dari ril-ril ahlussunnah wal jamaah. Maka kemungkinan besar Indonesia ini akan hancur, karena pondasinya sudah rapuh.

Sekali lagi akhlakul karimah harus dipertahankan. Kalau mencari pemimpin yang intelektual saja, bangsa ini tidak akan kekurangan stok, kalau hanya pemimpin yang kaya secara materiil bangsa ini tidak akan kehilangan kader, kalau hanya pemimpin yang pandai mengonsep, bangsa ini tak akan pernah kurang cara untuk melahirkannya. Tapi untuk mencari pemimpin yang berakhlak al-karimah, mempunyai moralitas yang tinggi dan berbudi luhur, maka bangsa ini seakan kekeringan dan kehausan. Akar permasalahannya, mengapa kita terus terpuruk adalah karena negara kita miskin orang-orang berakhlak al-karimah.

Hanya santri yang memiliki akhlak al-karimah, dan pesantren adalah gudang pembinaan akhlak al-karimah tersebut. Dengan demikian, maka penjaga moralitas itu adalah santri dengan jiwa kesantriannya. Bila jiwa kesantrian itu hilang dan tercerabut dari akar pesantren maka pupuslah sudah harapan bangsa ini untuk memperbaiki bahkan untuk menyelamatkan bangsa ini.

Banyak kalangan yang heran dan bertanya-tanya, termasuk saya tentang sebuah fenomena yang akan menghenyakkan kita. Kini, banyak doktor yang ingin menjadi santri, frekwensinya sama besarnya dengan keinginan santri yang ingin menjadi doktor. Ini agaknya lucu dan menggelitik, saat orang-orang yang top, populer dan tidak kekurangan suatu apapun mempunyai keinginan untuk menjadi seorang santri, mengaji pada kiai dan berupaya mendekatkan dirinya pada Allah. Di saat itu pula banyak santri yang ingin menanggalkan baju kesantriannya. Mengapa?

Ada logika yang terbalik nampaknya, semakin matang ilmu agama kita mestinya kita semakin ingin mendalami ilmu agama, semakin dalam kita menyelam justru semakin dalam rasa penasaran kita, semakin tinggi kita naik ke atas langit semakin haus kita dengan tetes-tetes spiritual, bukan malah semakin puas dengan yang ada. Kalau mau jujur kita harus mengakui kehebatan pemikiran para doktor dengan teori-teorinya yang ilmiah tersebut. Mestinya kita menapaki jejaknya untuk semakin mendalami ilmu agama, karena mereka, di usianya yang senja justru semakin menyongsong Allah. Ber-taqarrub ila Allah.

 
copyright © mambaussholihin.com 2006
batas kanan
batas bawah kiri batas bawah batas bawah kanan
?>?>