batas atas kiri batas atas batas atas kanan
batas kiri
 
Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin  
  batas kanan    
 

Tausyiyah

» Jangan memutus Hubungan Ruhaniyah dengan Gurumu
» Bahasa Arab dan Inggris adalah Penyempurna Pesantren ini
» al-Qur’an sebagai tolak ukur
» Salat Jamaah sebagai Ganti Tirakat Mondok
» Harus Ada Perbedaan Antara Sebelum dan Sesudah Mondok
» Cintailah Dzurriyaturrasul s.a.w
» Hubb al-Dunya Hijab Terbesar pada Allah s.w.t
» Jangan Biarkan Jiwa Santrimu Hilang
» Ridha Orang Tua, Ridha Guru dan Ridha Allah s.w.t.
» Tafaqquh Fi al-Din Sebagai Ruh Pesantren
» Waspadai Ajaran Islam Liberal
» Laksanakanlah Amanah, Jangan Memukul Santri
» Kesombongan dan Keikhlasan
» Belajarlah Akhlak al-Karimah pada Kiai Sepuh
» Jangan Pernah Merasa Pensiun Menjadi Guru
» Berbahagialah Orang yang Bertanggung Jawab
» Perkuatlah Mentalmu Dengan Wirid
» Jadilah Santri yang Intelektual
» Akal Tidak Membawa Kebahagiaan
» Doa Seorang Hamba
» Optimalkan Mahasiswa INKAFA
  batas kanan
batas kanan  
KH. Masbuhin Faqih
Pengasuh Pondok Pesantren
Mamba'us Sholihin

Hubb al-Dunya Hijab Terbesar pada Allah s.w.t

Tidak akan bisa seorang yang hubb al-dunya menghadap Allah s.w.t dengan wajah khusyu’ dan tadharru', apalagi mengutamakan akhirat atau memusatkan ibadah hanya kepada Allah s.w.t. Sungguh sangat sulit sekali, bagaimana tidak, ketika hatinya terserang penyakit hubb al-dunya maka ia akan berusaha untuk mencapai keinginannya walaupun harus menghalalkan segala cara.

Masalah semacam ini sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih ketika seseorang menjadi pemimpin atau memegang jabatan tertentu, betapa besar cobaan dan godaan setan baginya mengenai masalah duniawi. Maka pada zaman sekarang ini, sangat sukar sekali mencari pemimpin yang rela mengorbankan harta kekayaannya untuk kepentingan organisasi atau menemui seorang yang ikhlas berjuang demi organisasi yang dipimpinnya. Tapi malah sebaliknya kita sering menjumpai pemimpin yang menjadikan jam'iyah atau organisasi sebagai “li'l wusul ila'l maal” atau “li't tahshi'lil maal bi dzalik” lumbung untuk mencari kepentingan pribadi duniawinya, walaupun harus mengorbankan agama dan keimanannya.

Santri-santriku...

Ketahuilah bahwa harta kekayaan yang didapatkan dengan cara demikian merupakan harta yang haram dan tidak akan memberi keberkahan sama sekali. Bahkan harta tersebut akan mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan di kemudian hari. Maka, benar sekali jika ada seorang pemimpin yang tasyahul fi amri al fulus al jam'iyah, sibuk mengurusi perkara duniawi saja, niscaya tidak akan bisa mengembangkan organisasinya dengan baik, apalagi memajukannya. Begitu juga dengan kehidupan orang tersebut, tidak akan merasakan nikmatnya hidup ini dan malah akan mendapatkan celaka di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga, jangan sekali-kali hati kamu sekalian terbesit sifat hubb al-dunya, karena sifat tercela tersebut merupakan hijab yang sangat besar pada Allah s.w.t bahkan bisa menjatuhkan harkat dan martabat jika penyakit ini benar-benar menyerang. Akan tetapi usahakan urusan duniawimu keluar jauh dari hatimu dan infaqkan kepada Allah s.w.t karena sejatinya itu semuanya adalah milik-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sulthon al-auliya' syaikh Abdul Qadir al-Jailani :

أَخْرِج الدُّنْيَا مِنْ قَلْبِكَ وَأَنْفِقْهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Keluarkan dari hati masalah duniawi yang ada di hatimu dan serahkanlah kepada Allah s.w.t.

Maka, kalau seandainya para pemimpin kita mempunyai sifat zuhd fi dunya, hatinya tidak terikat dengan masalah duniawi, niscaya negara kita aman, damai sentosa serta bebas dari korupsi.

Namun, janganlah kalian lantas meninggalkan urusan dunia begitu saja, berpangku tangan sambil tamak mengaharap-harap pemberian orang lain. Karena tidak bisa dipungkiri lagi kalian juga butuh rizki dan kebutuhan lain di dunia ini. Akan tetapi kalian dituntut untuk bekerja dan memang harus bekerja apalagi setelah berumah tangga.

حَرِّكْ يَدَكَ أُنْزِلْ عَلَيْكَ رِزْقَكَ
Gerakkan tanganmu (bekerjalah) maka aku akan menurunkan rizkimu.

Maka hendaklah kamu sekalian bekerja dan mencari penghidupan di dunia ini dengan bersungguh-sungguh, bekerja apa saja yang penting pekerjaan halal bagi Allah s.w.t, walaupun itu hina dalam pandangan manusia. Di samping itu kalian juga harus minta kepada Allah s.w.t semoga diberi rizki yang luas untuk berjuang demi agama Allah s.w.t.

وَارْزُقْنِى رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبَا مُبَارَكًا مِنْ غَيْرِتَعْبٍ وَلَامَشَقَّةٍ وَلَاضَيْر ٍإِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ.

Sebab seseorang yang faqir serta miskin lebih mudah dibujuk untuk menjadi orang yang kafir lantaran tidak mempunyai harta sama sekali dan sangat membutuhkan untuk kelangsungan hidupnya.

كَاد َالْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Kefakiran akan mendekati kapada kekufuran.

Akan tetapi jangan sampai timbul dalam hati sifat hubb al-dunya. Kalau hati bersih dari sifat tersebut walau rizki itu banyak sudah barang tentu kamu akan selamat dari dunia dan akhirat kelak serta lebih dekat dengan Allah s.w.t.

 
copyright © mambaussholihin.com 2006
batas kanan
batas bawah kiri batas bawah batas bawah kanan
?>?>