|
|
|
KH. Masbuhin Faqih
Pengasuh Pondok Pesantren
Mamba'us Sholihin |
Salat Jamaah sebagai Ganti Tirakat Mondok
“Saya kalau tidak salat jamaah, getunnya luar biasa, lebih baik kehilangan uang satu juta…”
Salat berjamaah adalah sebagai tathbiqul ilmi, khususnya bagi santri di pesantren. Seseorang dikatakan berilmu agama tinggi jika ia melaksanakan syariat agama dengan benar, lebih-lebih salat berjamaah. Sehingga pondok pesantren seakan bercahaya dan terlihat nur dan barakahnya adalah pesantren yang para santrinya istiqamah salat berjamaah, walaupun bangunannya berupa goprak atau gedhek. Dan sebaliknya, walaupun pesantren yang bergedung tingkat tujuh, akan tetapi para santrinya tidak kulino atau bahkan sembrono dalam salat berjamaah, seakan suram dari cahaya ilahiyyah.
Oleh karena itu, ketika mushalla di pesantren ini belum selesai dalam pembangunan, sehingga santri-santri tidak bisa serempak berjamaah, maka saya minta untuk tidak meninggalkan salat berjamaah, walaupun itu dilaksanakan secara bergelombang, menyesuaikan tempat dan kegiatan santri yang berbeda-beda waktunya.
Hal ini sebagaimana yang didawuhkan mbah romo kyai Abdul Hadi Zahid ketika saya sowan pertama kali mondok di Langitan, beliau mengatakan bahwa salat jamaah sebagai ganti tirakat di pesantren, karena sekarang bukan zamannya untuk tirakat, berbeda dengan dahulu. Sehingga, jika saya mewajibkan setiap santri untuk tirakat maka akan lebih sedikit sekali orang yang mondok.
Memang, santri dulu biasa melakukan tirakat, sebagaimana ketika saya mondok di pesantren Langitan dulu. Banyak santri termasuk saya sendiri beli kayu ke stasiun Babat untuk menanak nasi, dipikul sendiri, dan memakai klompen walaupun jaraknya jauh sekalipun. Ada pula yang makan jagung sehari semalam dan lain-lain.
Maka, kulinakno untuk salat berjamaah sebagai pengganti tirakat, dan cobalah rasakan ketika anda sudah istiqamah salat berjamaah, sehingga jika tidak salat berjamaah satu kali saja, akan merasa sangat bingung sekali. Namun, kalau tidak bisa kulino, berarti memang hatinya sudah tertutup dari hidayah Allah s.w.t. Al-Faqir, saya sendiri jika tidak salat jamaah satu kali saja, getunnya luar biasa, lebih baik kehilangan uang satu juta. Dan ketika saya bepergian pun, saya selalu mengajak satu atau dua orang untuk salat berjamaah di perjalanan. Maka, apa tidak merasa eman untuk tidak salat berjamaah?!.
Oleh karena itu, saya tekankan kepada santri untuk salat berjamaah, lebih-lebih kepada guru yang berada di dekat lingkungan pesantren ini, sehingga ia juga bisa menjadi contoh para muridnya. Manfaatnya akan lebih terasa ketika menunggu imam, dengan memperbanyak membaca dzikir. Dan, jikalau di kalangan pesantren saja tidak salat berjamaah, bagaimana nanti di masyarakat kelak. Apakah tidak melihat rasulullah s.a.w, yang beliau sendiri adalah;
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَاْليَوْمَ اْلأَخِرَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
(Rasulullah) adalah contoh yang baik bagi orang yang mengharap (ridha) Allah dan hari akhir dan memperbanyak dzikir (menyebut nama Allah).
Bagaimana ihtimamnya beliau tentang salat jamaah, sehingga beliau punya azam, agar ada salah satu sahabat yang menjadi imam salat, kemudian beliau keliling di sekitar rumah sahabat. Beliau mengatakan bahwa jika ada sahabat yang tidak ikut salat berjamaah, maka akan saya bakar rumah sahabat tersebut. Hal ini menunjukkan saking pentingnya salat berjamaah itu. Sedangkan ulama' salafusshalih dulu, jika tertinggal takbir al-ihram saja, dilawat 3 hari dan kalau tertinggal salat jamaah sekali saja, maka ditakziyahi sampai 7 hari sebagaimana orang yang meninggal dunia.
Sekali lagi, saya minta dewan guru dan para santri untuk lebih memperhatikan salat berjamaah, termasuk adabiyah dan peraturan berjamaah; shafnya harus kenceng, tidak ada yang lowong. Jangan sampai kalau shaf yang pertama belum komplit, sudah membuat shaf lagi. Hal ini menunjukkan tidak mempraktekkan adabiyah dan tatacara berjamaah. Bagi para imam-imam agar menoleh ke belakang dahulu, jangan langsung takbir, dan tidak meneliti apakah barisannya sudah rapet dan lurus atau belum, karena hal itu tidak mendidik santri.
Maka, insya Allah, jika salat berjamaah dilaksanakan dengan istiqamah, kita akan tetap bersatu dan kokoh, juga termasuk bagian dari tathbiq al-ilmu bi al-amaliyah khususnya dalam hal salat berjamaah. Dan ilmu yang dipelajari di pesantren ini insya Allah akan lebih bermanfaat serta niscaya di akhirat nanti kita akan dikumpulkan dengan rasulullah s.a.w, para sahabat dan ulama' salafusshalih lantaran kita melaksanakan apa yang telah mereka lakukan.
Mudah-mudahan apa yang didawuhkan oleh hadratussyaikh KH. Abdul Hadi Zahid, bahwa tirakat santri adalah salat berjamaah, bisa dilaksanakan oleh para santri Mambaus Sholihin, sehingga dijadikan oleh Allah s.w.t sebagai hamba yang shalihin muttaqin. Amin
|